~~~Selamat Datang Di Situs Sederhana Ini, Semoga Bermanfaat!!!~~~Usaha Makanan dan Minuman---Usaha Makanan Modal kecil---Usaha Makanan Rumahan dan menguntungkan---Bisnis Makanan 2010---Bisnis makanan Yang menjanjikan---Bisnis dan Usaha Makanan---Bisnis Makanan Minuman Usaha Makanan Minuman~~~Selamat Datang Di Situs Sederhana Ini, Semoga Bermanfaat!!!~~~

Bisnis Makanan Modal Kecil dan Bisnis Franchise Makanan

Posted by Neng Novie on

Maraknya bisnis makanan khas daerah mendorong Aris Munandar untuk membuka usaha serupa dengan menjual makanan khas dari kota Kudus, tempat ia berasal. Bagiamana tingkat keuntungan usaha ini dan bagaimana cara ia menjalankannya?

Akhir-akhir ini, menu masakan khas daerah semakin banyak bermunculan dimana-mana baik di rumah makan, restoran bahkan sampai kaki lima yang seakan berlumba “back to nature“. Salah satu contohnya yakni soto. Dimana, jenis maupun rasa soto ternyata telah berkembang banyak sekali yang sesuai dengan lidah beberapa etnik di Indonesia. Seperti: Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Betawi, Coto Makassar, dan lain sebagainya.

usaha makanan, usaha makanan dan minuman, usaha makanan modal kecil, usaha makanan rumahan, usaha makanan menguntungkan, usaha makanan unik, usaha makanan murah, usaha makanan cepat saji, usaha makanan cemilan

Para penggemar makanan soto ini pun banyak, dimana seringkali mereka mencari dan mendatangi kedai yang menjual makanan soto ini. Salah satu jenis soto yang diburu para penikmat makanan khas daerah adalah SOTO KUDUS KEMBANG JOYO milik Aris Munandar, yang berada di Jalan Subang, Jakarta Pusat.

Setiap hari tempat usahanya selalu ramai dikunjungi pengunjung yang ingin menikmati Soto Kudus, atau pembeli yang sekedar ingin mencicipi bagaimana rasanya. Apalagi pada jam-jam makan siang, penggemar soto kudus ini semakin bertambah, karena memang lokasi Soto Kudus Kembang Joyo ini terletak di dekat dengan komplek perkantoran sehingga banyak karyawan di sekitar lokasi tersebut yang menjadikan Soto Kudus Kembang Joyo sebagai tempat makan favorit mereka.

Bisnis soto kudus tersebut dibuka oleh Aris Munandar pada sekitar tahun 2004. Pada mulanya ia berkerjasama dengan pihak lain untuk membuka soto kudus dengan sistem bagi hasil 50 : 50. Modal awal dari Aris sebesar Rp 10 juta untuk membeli berbagai peralatan, sementara mitranya bertanggung jawab menyiapkan dana untuk tempat.

Setelah sekian lama dan usaha mereka cukup maju, akhirnya Aris Munandar membuka usaha sendiri di sebuah food Court dengan sistem bagi hasil 20% untuk pengelola ruko dan 80% untuk Aris dari hasil kotor.

Setelah itu Aris menempati sebuah ruko dengan ukuran sekitar 3 x 7 meter dengan sewa Rp 3 juta per bulan. Untuk memulai usaha, Aris mengeluarkan modal sekitar Rp 15 juta untuk membeli meja, kursi, peralatan dapur, kulkas, angring (sejenis pikulan tempat soto khas Kudus, Jawa Tengah) serta bahan baku.

Menurut Aris, ia belum pernah berhubungan dengan bank karena modal awalnya berasal dari tabungannya pada waktu bekerja dulu dan juga ada sedikit pinjaman dari saudaranya yang menurutnya lebih aman jika dibandingkan dengan meminjam dari bank jika usahanya sepi dan menghadapi resiko gagal bayar cicilan bank tiap bulannya.

STANDARISASI RASA

Lebih lanjut Aris mengatakan, untuk membuka usaha ini pada mulanya tidak bisa dipelajari secara langsung, tetapi harus belajar setahap demi setahap, dan apa yang dipelajari tidak hanya seputar pada resep dan bumbu, tetapi juga pada bagaimana melayani pelanggan. “Pada waktu itu setelah tamat sekolah saya ikut adik sepupu untuk belajar soto kudus ini. Setelah berjalan 4 tahun dan saya merasa modal saya sudah cukup akhirnya saya membuka usaha sendiri“, kenang Aris.

Walau usahanya masih kecil-kecilan, menurut Aris, sotonya sudah memiliki standarisasi rasa supaya konsumennya dapat menikmati rasa yang sama saat datang kembali. Dan rupanya standarisasi rasa ini berdampak positif bigi bisnisnya, karena semakin hari pelanggannya semakin bertambah banyak.

Menurut Aris, bahwa dalam berbisnis makanan sebenarnya tidak ada trik khusus, yang perlu diperhatikan hanya seperti mempertahankan kualitas rasa, menjaga kebesihan, memberikan service yang terbaik dan mematok harga yang tidak kemahalan. Selain itu juga harus diperhatikan suasana kerja yang menyenangkan. Karena jika suasana kerja sudah tidak kondusif, akan mempengaruhi bisnis secara keseluruhan.

Untuk penyediaan bahan baku sotonya, Aris tidak pernah menyimpan stok dirumahnya, jadi setiap hari ia rutin belanja kepasar tradisional Senen, Jakarta Pusat untuk membeli bahan baku. Hal ini dikarenakan untuk menjaga kualitas sotonya supaya tetap fresh karena menggunakan bahan-bahan yang masih segar dan baru. Jika bahan sotonya ternyata ada yang tidak laku pada hari tersebut, tidak akan dipakai untuk bahan pada hari berikutnya. Bahan-bahan itu dapat dibuang atau dimanfaaatkan untuk keperluan lainnya.

Rata-rata dalam 1 hari ia berbelanja bahan baku sebanyak sekitar Rp 300.000 untuk membeli bahan-bahan seperti: ayam kampung, tauge, daun seledri, daun bawang, bawang merah, bawang putih, bawang goreng, kemiri, jahe, daun salam, lengkuas/ laos, bumbu penyedap, jeruk nipis, garam dan merica. Sedangkan untuk omzet kotor berkisar sekitar satu jutaan per harinya.

Untuk operasional kerja usahanya sehari-hari, Aris dibantu istrinya sendiri sebagai kasir serta 4 orang karyawan dengan gaji sekitar Rp 750.000 bersih. Karena Karyawannya tidak perlu kost, dan tempat tinggal sudah disediakan Aris, termasuk untuk makan sehari-hari karyawannya. Itulah mengapa gaji yang diterima oleh para karyawannya disebut gaji bersih.

Adapun karyawanya di ambil dari kalangan keluarga sendiri dengan alasan supaya selalu dapat “dipegang” alias terpantau. Alasan lain adalah supaya kerabat yang bekerja padanya dapat pelan-pelan belajar, dan dapat membuka usaha sejenis seperti ini di masa yang akan datang.

CARA MEMBUAT SOTO KUDUS KEMBANG JOYO ala ARIS MUNANDAR

BAHAN-BAHAN:

  • 1 ekor ayam kampung
  • 100 gram tauge, akarnya dibuang dan dicuci bersih
  • 2 batang daun seledri, diiris halus
  • 2 batang daun bawang, diiris halus
  • 5 butir bawang merah
  • 10 siung bawang putih
  • 50 gram bawang goreng
  • 5 butir kemiri
  • 4 cm jahe
  • 2 lembar daun salam
  • 4 cm lengkuas/ laos, dimemarkan
  • 1 sdt bumbu penyedap
  • 1 jeruk nipis, diambil airnya
  • garam dan merica secukupnya.

CARA MEMBUAT :

  • Siapkan air dalam panci besar. Masukkan ayam kampung, daun salam dan lengkuas didalam panci, rebus sampai matang dan empuk.
  • Angkat ayam yang sudah empuk, tiriskan. Suwir-suwir daging ayam, sisihkan.
  • Pisahkan kaldu ayam sebanyak 2 liter, jika kurang, tabahkan air matang.
  • Cincang kasar bawang merah dan putih. Kemiri dihaluskan, Jahe dimemarkan, lalu bakar sebentar.
  • Panaskan 2 sendok makan minyak lalu tumis bawang merah, bawang putih, kemiri dan jahe sampai harum. Masukkan tumisan bumbu ke dalam kaldu ayam yang suah dipisahkan.Tambahkan bumbu penyedap, garamdanmerica secukupnya dan didihkan diatas api sedang. Setelah mendidih lalu diangkat.

CARA MENGHIDANGKAN :

  • Siapkan mangkuk cekung, masukkan daging ayam, tauge, bawang merah, daun bawang, daun seledri dan perasan jeruk nipis.
  • Terakhir, tuangkan kaldunya.
  • Hidangkan selagi panas dengan sambal kecapnya.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment