~~~Selamat Datang Di Situs Sederhana Ini, Semoga Bermanfaat!!!~~~Usaha Makanan dan Minuman---Usaha Makanan Modal kecil---Usaha Makanan Rumahan dan menguntungkan---Bisnis Makanan 2010---Bisnis makanan Yang menjanjikan---Bisnis dan Usaha Makanan---Bisnis Makanan Minuman Usaha Makanan Minuman~~~Selamat Datang Di Situs Sederhana Ini, Semoga Bermanfaat!!!~~~

Bisnis Makanan Kecil dan Bisnis Waralaba Makanan

Posted by Neng Novie on

Lihatlah di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Pontianak dan sebagainya, hampir di semua sudut, baik di gang yang sempit, diatas trotoar, dihalaman parkir di berbagai gedung dan bahkan di mal di penuhi oleh berbagai makanan yang siap disantap. Untuk kota Metropolitan, Jakarta, bukan hanya makanan khas Betawi saja yang di jajakan, tetapi juga makanan khas dari daerah lain, seperti makanan khas Sulsel, Aceh atau masakan Manado. Bila di jumlahkan, mungkin ada ribuan jenis makanan daerah yang di jajakan di kota Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Jika anda jeli, makanan khas daerah merupakan suatu peluang bisnis alias peluang usaha yang cukup menggiurkan untuk di garap pengusaha.

usaha makanan, usaha makanan dan minuman, usaha makanan modal kecil, usaha makanan rumahan, usaha makanan menguntungkan, usaha makanan unik, usaha makanan murah, usaha makanan cepat saji, usaha makanan cemilan

Dan yang mencengangkan, hampir semua jenis makanan daerah yang di tawarkan oleh pedagang makanan selalu mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan berkembang semakin besar. Dengan antusiasnya masyarakat terhadap makanan khas daerah Indonesia, tidak heran jika bisnis makanan khas daerah sangat menggiurkan, bahkan bisa mencapai keuntungan sampai 50% untuk pedagang yang menjual beberapa makanan seperti Soto atau Bubur ayam.

Coba sebut jenis makanan apa yang tidak ada dijual di Jakarta? hampir semua makanan yang berasal dari daerah dari seluruh Indonesia ada dijual di Ibukota. Dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa, Jakarta dapat diibaratkan “surga” bagi pedagang makanan khas daerah, karena memang pada umumnya komposisi penduduk Jakarta terdiri dari 80-90% adalah pendatang.

Potensi bisnis makanan yang terbuka di kota Jakarta, juga terbuka di kota-kota lainnya. Hal ini terjadi, karena hampir semua kota-kota besar di Indonesia dipenuhi oleh masyarakat pendatang. Contohnya saja kota Pekanbaru, Riau, di kota tersebut penduduknya bukan hanya terdiri dari orang Melayu yang gemar menyantap masakan Padang atau Melayu, tetapi juga berbagai masakan daerah lain, karena heterogennya mayarakat yang mendiami kota tersebut.

Maka jangan heran jika masakan khas Jawa seperti Gudeg atau khas sunda termasuk bakso Solo atau Rawon Jawa selalu di kerumuni oleh pengunjung. Hal demikian juga terjadi di daerah-daerah atau kota-kota besar di kalimantan, Sulawesi dan lain sebagainya.

Untuk kota-kota di pulau Jawa, meski Yogyakarta dikenal dengan Gudeg sebagai makanan khasnya, ternyata makanan-makanan khas dari daerah lain juga ikut memenuhi hampir disetiap sudut kota tersebut. Kota Yogyakarta tidak lagi di dimonasi oleh penjaja Gudeg, tetapi juga oleh pedagang makanan dari daerah lain yang memiliki cita rasa yang khas dan berbeda. Dan hal tersebut juga dialami oleh kota Bandung, semarang, Surabaya dan lain sebagainya.

Pendek kata, makanan khas daerah saat ini sudah Go National alias sudah lintas daerah, dan sudah bisa diterima oleh lidah konsumen dari suku mana saja. Buktinya, Sroto Eling-Eling Banyumas yang terletak di Jalan Casablanca, Jakarta Selatan,selalu diserbu oleh pembeli. Tidak hanya didatangi oleh orang Banyumas saja, melainkan juga didatangi oleh orang manado atau orang padang yang ternyata juga menyukai Sroto.

Hal yang sama juga terlihat di Jalan alternatif Cibubur, dimana konsumen mengantri untuk membeli Pisang Goreng Pontia (Pisang Goreng Khas Pontianak, Kalimantan barat/ West Borneo). Para konsumen yang membeli bukan hanya orang Dayak atau orang Kal-Bar, tetapi banyak dari suku-suku lainnya.

Demikian juga dengan “Sup Conro Haji Maming” yang terletak di Jalan Casablanca, orang yang berjubel untuk membeli bukan hanya orang Makassar atau Sulawesi, tetapi juga dibeli oleh orang dari suku-suku lain di Indonesia.

Tidak hanya di Kota Jakarta, jika anda jalan-jalan ke kota Cirebon dan singgah di “Nasi Jamblang Mang Dul” yang berada didepan Matahari dept, maka pembelinya bukan hanya orang Cirebon, tetapi juga para pelintas batas yang sedang melewati kota Cirebon.

Juga bila anda jalan-jalan ke Indramayu, tepatnya di Jalan menuju Bolongan, disana dijual Ikan bakar Mutiara yang sangat lezat yang dinikmati bukan hanya oleh orang dari suku Sunda, bahkan menurut si pemiliknya sekitar 90% konsumennya adalah masyarakat dari luar Indramayu.

Lezat dan nikmatnya masakan khas daerah karena selalu mengandalkan bumbu alami, tak hanya semakin disukai oleh orang Indonesia, tetapi juga diminati oleh para turis dari mancanegara. Lihatlah ke Pulau Bali, maka akan terlihat banyaknya para turis yang sedang menikmati lezatnya makanan khas daerah di berbagai warung kaki lima yang bermunculan pada malam hari di kota Denpasar.

Antusiasnya konsumen terhadap makanan khas daerah merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup menjanjikan untuk digarap. Namun demikian, bagi anda yang ingin terjun ke bisnis makanan, khususnya makanan khas daerah, perlu dipertimbangkan untuk memilih tempat yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang berasal sama dengan makanan tersebut, karena pada masa-masa awal dibukanya suatu usaha, orang-orang inilah yang pertama-tama dijadikan target konsumen. Setelah beberapa lama, maka akan ada promosi MLM (mulut ke mulut) tentang makanan khas daerah yang anda jual. Sehingga pembeli makanan yang anda jual bukan dari satu suku saja, tetapi dari beragam suku.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment